Manfaat Kapulasan , Flora Asal Kalimantan Tengah

Flora Kapulasan – Mungkin saat ini banyak orang yang jarang mendengar atau mengenal buah kapulasan.Kerabat rambutan yang tidak memiliki rambut ini memang sudah jarang ditemui di pekarangan rumah penduduk, padahal buahnya cukup diminati. Upik, warga Nagari Mungo Kecamatan Luak Kabupaten 50 Kota, Sumatera Barat yang memiliki pohon Kapulasan Mungo 02 menerangkan bahwa buah kapulasan miliknya sering sudah dipesan warga sekitar sebelum buahnya matang.

Kapulasan memiliki banyak nama lokal, di Sumatera orang menyebutnya buah pulasan atau kapulasan. Masyarakat di Jawa Barat menyebut kapulasan dengan nama sibabat/rambutan babat, hal ini disebabkan karena kulit buahnya berbentuk seperti babat (jeroan sapi). Masyarakat di Kalimantan Tengah menganggap buah ini sebagai buah khas Kalimantan Tengah, mereka menyebut buah ini dengan nama Maritam atau Tenggaring. Sebagian masyarakat lainnya ada juga yang menyebut tanaman ini dengan nama rambutan gundul.

Pohon kapulasan memiliki tinggi sekitar 5-15 m, permukaan batangnya kasar sampai sangat kasar. Daunnya berbentuk lanset dengan jumlah 2-5 pasang, berselang seling, dan berwarna hijau. Buahnya ada yang berbentuk ovoid dan ada yang berbentuk oblong. Berdasarkan kemudahan aril untuk dipisahkan dari kulit biji kapulasan dapat dibedakan menjadi dua tipe, yaitu yang mengelotok dan tidak mengelotok. Beradasarkan rasa aril, kapulasan juga dapat dibedakan menjadi dua tipe, yaitu kapulasan dengan rasa aril manis, dan asam. Kapulasan Mungo 01, Sibabat dan Kapulasan Cipaku merupakan contoh kapulasan yang memiliki rasa manis dan mengelotok, bahkan rasanya lebih manis dibandingkan rambutan.

Kapulasan yang ditemukan di Sumatera Barat ternyata memiliki buah yang cukup lebat, sedangkan kapulasan di Jawa Barat seperti kapulasan Cipaku dan Sibabat memiliki malai yang lebat, tetapi buahnya sangat sedikit.

Selain dapat dikonsumsi segar, ternyata saat ini kapulasan sedang dikembangkan di negara tetangga kita Malaysia untuk dikembangkan sebagai bahan pembuatan obat anti kanker. Beberapa penelitian menjelaskan bahwa kulit buah kapulasan mampu menghambat pertumbuhan sel kanker HT-29, bahkan membunuhnya. Senyawa yang terkandung di dalam kulit buah kapulasan ternyata bersifat sikotoksik (dapat meracuni sel kanker), sehingga dapat digunakan pada kemoterapi penyakit kanker.

Kapulasan juga dapat dijadikan sebagai salah satu kandidat tetua persilangan dalam rangka perbaikan varietas rambutan. Di antara karakter yang perlu diinduksikan ke tanaman rambutan budidaya (N.lappaceum) adalah karakter kulit tebal, dan tidak adanya rambut (spintern) pada kapulasan. Seperti diketahui, tanaman rambutan memiliki umur simpan yang sangat pendek. Hal ini disebabkan karena rambutan memiliki kulit buah yang tipis dan spintern yang panjang. Penurunan kualitas buah rambutan dimulai dari layunya spintern yang diikuti dengan meningkatnya kandungan air pada aril, yang dilanjutkan dengan perubahan rasa aril menjadi masam dan akhirnya membusuk (kuswandi).

You May Also Like