Burung Hantu

Burung Karnivora ini dari namanya saja suda membuat kita merinding, banyak sebutan juga di sematkan pada hewan ini. Sebutan burung hantu pun beragam mulai dari celepuk, serak, jampuk, kokok beluk, beluk ketupa, dan punggok atau pungguk.. Hewan ini merupakan hewan yang beraktifitas di malam hari (nokturnal). Pada dasarnya ilmuwan mengkelompokan burung hantu dalam Ordo Strigiformes dan terdiri dari dua suku (famili), yakni burung hantu gudang (Tytonidae) dan burung hantu sejati (Strigidae).

Mitos kepada burung terhadap burung ini, dikarenakan bahwa burung mempunyai kemampuan terbang di malam hari dan tanpa suara, sehingga sering membuat masyarakat menjadi takut. Namun keberadaan burung hantu dilikungan kita, ternyata sangat membantu manusia.

Burung hantu merupakan karnivora yang handal berburu. Paruhnya tajam dan kuat, kaki dan kuku tajamnya cekatan mencengkeram. Kehebatannya berburu membuat “Sang Raja mitos” ini tak pernah meleset saat menyergap katak, tikus, serangga, binatang kecil lainnya.

Keberadaan burung hantu bermanfaat sebagai pembasmi hama terutama tikus untuk pertanian manusia. Burung hantu dinilai lebih efektif daripada penggunaan racun atau sebagainya. Sepasang burung hantu bisa melindungi 25 hektar tanaman padi. Dalam setahun satu burung bisa memangsa 1.300 ekor tikus.

Burung hantu terbukti dalam menanggulangi serangan tikus dan bersahabat terhadap lingkungan tanpa menimbulkan dampak negatif terhadap ekosistem dan alam. Wilayah yang biasa didiami burung hantu adalah padang rumput, semak belukar, kebun, peternakan, sawah, atau pinggiran kota. Mereka bisa membuat sarang di berbagai jenis hutan, semak semi kering, rawa-rawa, dan lainnya.

Dari 240-an spesies burung hantu di dunia, 54 diantaranya hidup di Indonesia, bahkan beberapa jenis merupakan spesies endemik Indonesia. Namun keberadaan burung hantu sudah sangat mengkhawatirkan. Banyak habitat hewan ini yang rusak dan perburuan terhadap burung ini juga sangat berpengaruh.

Beberapa jenis asli Indonesia Seperti Celepuk Siau (Otus siaoensis) yang saat ini merupakan salah satu jenis burung paling langka di Indonesia. Sementara Celepuk Flores (Otus alfredi), Serak Taliabu (Tyto nigrobrunnea), dan Celepuk Biak (Otus beccarii) berstatus Endangered (Genting) berdasarkan status IUCN Redlist.

You May Also Like